Minggu, 04 Desember 2011

Sejarah


RAJA PAJAJARAN 



Raja pajajaran, Prabu Siliwangi, sedang dirunung duka. Baginda baru saja
Bermimpi buruk. Takhta kerajaannya yang luas, yang meliputi seluruh tanah sunda, diramalkan akan segera runtuh. Hnya ada satu penangkal tumbal penyelamatnya, yaitu harus mencari dan memiliki pusaka kerajaan yang berwujud surat sakti “Salaka Domas”, yang kala itu celakanya tidak diketahui dimana tempatnya.
Surat sakti berbentuk lempengan emas tersebut menurut mimpi baginda, harus segera dicari jika memang sang prabu Siliwangi berkehendak terus tampil sebagai raja besar seumur hidupnya.
Karuan saja, akibat adanya pertanda gaib itu, baginda menjadi kuang enak makan dan tidur. Sepanjang hari, bahkan sepanjang waktu hatinya terus gelisah. Rasa takut, cemas, dan khawatir mengalahkan segalanya. Para istrinya pun, yaitu seorang perempuan cantik bernama Padmawati serta beberapa selir-salah satunya Restiningsih yang menjadi pesaing sang primadona-seakan terabaikan.
Hari-hari sebelumnya,kerajaan Pajajaran-yang terletak di wilayah Bogor dan diapit dua buah sungai, masing-masing Ciliwung dan Cisadane-berada dalam kondisi gembira. Tetapi sejak hari ini, keaaan berubah seratus delapan puluh derajat. Baginda sering marah-marah tak karuan. Permaisuru Padmawati dan selir Restiningsih, yang kebetulan sama-sama sedang hamil tua, tak urung mendapat perlakuan kasar dari sang Baginda.
Permaisuru Padmaawati selalu menangis dan bersedih. Bukan lantaran karena sering kena marah sang baginda, melainkan karena ikut merasa prihatin akan kesulitan yang dihadapi suaminya. Berbeda dengan Restiningsih dan para selir lainnya, mereka tetap bergembira, berfoya-foya, tanpa memperdulikan kesusahan sang Raja.
Restiningsih yang selalu iri dengan sang permaisuri menganggap sikap Padmawati itu tak lebih sebagai upaya untuk mencari muka.
“alasan saja berperilaku prihatin, padahal, para patih dan panglima yang terlibat dalam pemerintahan saja tidak resah. Bisa-bisanya kakanda permaisuri mengambil hati Baginda.” Cibir Restiningsih ketika berpapasan dengan Padmawati yang tampak sayu.
Sifat dengki dan sirik selir itu memang selalu di perlihatkannya, apalagi ketika sedang berhadapan dengan Baginda. Restiningsih terus berupaya menyingkirkan sang permaisuri. Dia takut, jika Padmawati melahirkan seorang anak laki-laki, kedudukan anaknya akan terancam. Sang selir yang punya paras ayu tapi kemayu itu mempunyai cita-cita pribadi, yaitu ingin menjadi permaisuri Raja.
Dia juga ingin anaknya yang lahir kelak di tunjuk sebagai penerus tahkta kerajaan. Restiningsih juga berhasrat ikatan tali pertunangan atau perjodohan yang dijalin Pajajaran dengan kerajaan kecil di muara Ciberes, antara calon putra dan calon putri dari kerajaan kecil tersebut dialihkan kepada calon anaknya.
Langkah licik dan akal bulus yang terus dilancarkan Restiningsih rupanya berjalan mulus. Sesuai rencananya, tindakan buruk selir itu seakan memperoleh retu Hyang Widi.
Beberapa hari berlalu. Permaisuri melahirkan seorang putra berparas gagah dan elok. Seminggu kemudian Restiningsih juga melahirkan seorang anak laki-laki. Putra Padmawati diberi nama Mundinglaya di Kusuma, sedangkan putra Restiningsih diberi nama Sunten jaya.
Pada waktu yang hampir bersamaan, seperti telah di rencanakan, permaisuri kerajaan Ciberes juga melahirkan putri cantik yan di namai Nyai Dewi Asri. Dengan demikian hubungan tali perunangan putra mahkota Pajajaran dan putri mahkota Ciberes pun di lakukan seperti i rencana semula, kendati baginda sedang bersedih.
Restiningsih tetap tidak rela ada tali pertunangan itu. Dia mencari akal untuk segera menjatuhakan Padmawati dan putranya. Seperti sedang dinanti, niatan buruk itu datang dengan sendirinya. Saatnya Hyang Widi memberikan cobaan kepada sang permaisuripun tiba.
Padmawati yang jujur dan merasa kasihan kepada raja suatu malam bermimpi aneh, persis seperti apa yang sedang di cari-cari sang Baginda. Menurut mimpi itu, pusaka Salaka Domas yang membuat pusing sang prabu terdapat di langit ketujuh.
Baginda segera memerintahkan patih dan pejabat negara untuk mencari pusaka itu. Tetapi ternyata mereka semua terkena hasutan Restiningsih.
“Apa mungkin benda terdebut ada di sana? Sok pintar dan sok tau betul yang mengatakannya.” ucap Restiningsih.
Ucapan Restiningsih itu termakan oleh para pembesar istana yang hadir. Mereka sependapat dengan selir yang punya akal licik dan selalu mencari peluang untuk menjadi permaisuri pengganti Padmawati itu. Dalam benaknya juga sudah terbayang jika sang permaisuri bernama Mundinglaya di campakkan, pasti anaknya, Sunten Jaya yang bakal menjadi calon unggul putra mahkota serta bisa mempersunting Nyai Dewi Asri.
Hasutan tersebut membuahakan hasil. Bahkan para petinggi istana mempertajam tuduhannya.
“Ampun baginda, hamba tidak sanggup, sebab impian itu cuma dongeng yang dikarang permaisuri saja,” jawab patih.
“Jika memang benar impian itu, maka sebaiknya Padmawati saja yang pergi mencari,” serempak para pejabat istana yang pada dasarnya malas dan tidak patuh dalam pengabdian berseru, mendukung keras ucapan patih.
Baginda Prabu bingung, mana mungkin istrinya pergi? Lagipula dia harus menyusui anaknya. Tetapi hasutan Restiningsih yang di tingkahi sikapnya yang merajuk penuh kegenitan akhirnya termakan juga oleh baginda.
Sang prabu takut kehilangan pamornya sebagai raja jika dia tidak memiliki surat sakti Salaka Domas seperti di syaratkan mimpinya. Akhirnya dijatuhkan perintah tegas yang tak boleh di tolak sang permaisuri. Tentu saja Padmawati sangat kaget dengan perintah yang sangat tiba-tiba itu.
Padmawati memang ketiban getah hasutan busuk. Dia meminta pertimabangan prabu agar perintah itu di peringan, menungu sampai dia tidak lagi menyusui putranya, Mndinglaya.
“Kalau tak mau, jelas kakanda permaisuri telah berbat bohong. Duh baginda,tahukah paduka apa balasan orang yang berbohong kepada raj?” rajuk sang selir.
“Baginda harus mengambil sikap, bukankah ada ketentuan yang harus di taati bahwa jika ketahuan berbohong,maka si pembohong harus menerima hukuman berat? Baiknya, kakanda permaisuri di tahan saja!”
Ucapan terakhir Restiningsih itu mengagetkan semua orang. Betapa bersedihnya Padmawati, karena sesuai putusan selanjutnya, dia bersama putranya harus segera masuk sel tahanan di bawah tanah.
Tanpa ada yang menolong, anak dan ibu berjiwa mulia itu pun akhirnya menjadi penghuni penjara. Bertahun-tahun, mereka berdua merasakan getirnya hidup di tengah suasana istana yang mewah. Namun Padmawati tetap permaisuri yang baik. Dia tetap saja sabar dan tawakal, memasrahkan diri kepada sang Hyang Widi.
Sikap kesederhanaan ini selalu di ajarkan kepada Mundinglaya selama di dalam tahanan. Tak terasa Mundinglaya pun sudah beranjak remaja dan semakin pintar. Ia menanyakan kepada ibunya, kenapa sang ayahanda begitu tega memenjarakan mereka. Apa salah mereka berdua? Padmawati tidak menghiraukan.
Untuk menjawab pertanyaan putranya itu, dia sendiri lalu mulai belajar prihatin dan melatih diri dengan olahrasa. Dia melakukan tapa di atas sebuah batu dan terus mencari ilham yang datang berkaitan dengan petunjuk impiannya dulu.
Hyang Widi akhirnya memberikan jalan. Suatu malam, datanglah sebuah sinar terang di iringi suara bergema menghampiri Padmawati yang sedang melakukan tapa. Suara aneh tanpa wujud itu kemudian berkata, “agar bisa sampai ke langit ketujuh, pergilah ke pulau Putri. Di sana kau akan menemukan seorang raksasa bernama Yaksa Maruta. Dialah yang tau jalan menuju Salaka Domas Berada.” setelah itu suara gaib itu langsung menghilang.
Sang permaisuri sangat kaget bercampur gembira. Dia menceritakan datangnya ilham itu kepada Mundinglaya. Mereka berdua akan bebas dan bisa menyelamatkan sang baginda dari ancaman kehancuran takhta pemerintahannya.
Padmawati sendiri tidak merasa dendam kepada suaminya. Bahkan kepada anaknya dia selalu mengatakan bahwa karena kesalahannya pulalah mereka berdua di masukkan ke penjara sampai bertahun-tahun.
Baginda yang mendengar kabar itu tampak terkejut bercampur malu. Dia menyesal telah memenjarakan istri dan anaknya sendiri hanya karena takut kehilangan takhta. Keterkejutan sang baginada seakan seperti gayung bersambut. Kali ini Restiningsihlah yang dibuat cemas.
Selir jahat itubaru saja membujuk prabu Siliwangi untuk mengubah tali perjodohan Nyai Dewi Asri dan Mundinglaya dengan anak terkasihnya, Sunten Jaya. Tentu saja harapan itu akan segera pupus jika ibu dan anak tak berdosa itu sgera di bebaskan dari hukuman penjara.
Permaisuri dan Mundinglaya kini sudah bebas. Sang prabu segera memerintahkan sang patih yang durjana untuk pergi ke pulau putri bertarung dengan raksasa Yaksa Maruta. Namun sebelum sang patih berangkat, akal licik Restiningsih muncul lagi. Dia yang selama ini menjadi “permaisuri” pengganti lalu cepat emberikan usulan.
“Biar saja Mundinglaya yang pergi. Bukankah dia telah cukup dewasa?” katanya mencoba menghasut baginda. usul busuk sang selir lagi-lagi diterima sang baginda yang tak sadar bahwa restiningsih sedang melancarkan aksi sengit menyingkirkan Mundinglaya dari Istana.
Akhirnya di bekali sebilah keris pusaka Pajajaran, Mundinglaya dititahkan untuk pergi. Calon putra mahkota yang memilik budi luhur dan akhlak bagus seperti ibundanya itu tidak mengelak. Dia setuju saja melaksanakan titah ayahandanya. Bagi dia beban itu justru di anggap
tugas suci dan mulia yang pantang atau tidak layak di tolak. Bukan saja demi pamor baginda, namun juga demi kelestarian serta kesinambungan nasib kerajaan pajajaran.
Sebelum berangkat tiba-tiba paduka prabu khawatir. Apalagi setelah melihat wajah Mundinglaya yang sangat mirip dengan dirinya. Baginda lalu sadar atas kekeliruannya. Keputusannya selama ini hanya mengikuti permintaan selirnya yang terus memasang rencana busuk.
Tetapi sabda yang telah terlanjur di ucapkan baaginda tidak mungkin bsa di tarik lagi. Wibawanya tentu akan hancur di depan para bawahannya jika dia meralat apa yang telah di ucapkannya sendiri. Untuk itu sebagai tanda penyesalannya, baginda lalu menyarankan kepada Mundinglaya untuk mampir dulu di kerajaan di muara Ciberes, sebelum pergi menuju pulau Putri. Disana dia di titahkan menengok calon istrinya yang selama ini di perebutkan oleh Sunten Jaya.
Nyai Dewi Asri berjanji akan tetap menanti, apapun yang terjadi. Dia sendiri tidak suka dengan Sunten Jaya yang terkenal sampai ke Ciberes sebagai pemuda yang nakal dan suka bermabuk-mabukan serta suka menggangu gadis-gadis. Tanpa Mundinglaya di sisinya nanti, lebih baik Nyai Dewi Asri tidak menikah. Karena rasa sayangnya dia lalu memberikan sebuah cinderamata berupa cincin pusaka bermata cokelat muda kepada kekasihnya yang datang menjenguk itu.
Cincin pusaka itu adalah hadiah dari ayahandanya yang dulu diperoleh dari Prabu Brawijaya, raja Majapahit ketika para pembesar Ciberes datang berkunjung ke kerajaan besar di jawa timur itu. Cincin pusaka itu sendiri memiliki khasiat, yaitu sinar kemilau yang di pncarkannya akn mampu membutakan mata raksasa Yaksa Maruta seketika
Mundinglaya pamit dari hadapan sang putri. Diceritakan kemudian dia sudah sampai kepulau yang di tuju. Yang sekarang dikenal sebagai salah satu wilayah Kepulauan Seribu di Teluk Jakarta.
Di pulau itu Mundinglaya bertemu raksasa yang di carinya. Namun ternyata Yaksa Maruta tidak mau member tahu kemana jalan menuju langit ke tujuh. Maka terjadilah pertempuran sengit, dengan cincin pusaka pemberian Dewi Asri, dengan mudahnya raksasa itu dikalahakan Mundinglaya. Raksasa yang telah buta itu kemudian bersimpuh di hadapan Mundinglaya.
Ksatria muda Pajajaran itu akhirnya diberi tahu cara untuk sampai ke langit ke tujuh. “disana ada satu penghalang yang harus kau hadapi sebelum merebut surat sakti salaka domas,” kata Yaksa Maruta.
mundinglaya haus berhadapan dengan raja raksasa bernama Guriang Tujuh, yang memiliki tujuh lapis nyawa dan menjadi penjaga satu-satunya surat pusaka tersebut, baik siang maupun malam.
dengan semangat membela negara dan tekad membaja, Mundinglaya yang sesungguhnya masih hijau dan mentah pengalaman itu tetap di tunjukkan menuju lapisan langit tersebut. tanpa halangan, dia pun sampai di tempat paling angker itu. sayang sekali dalam pertempuran melawan raja raksasa tersebut, ksatria muda itu tidak mampu melawan secara berimbang. dia langsung kalah dan tewas.
guriang tujuh, yang konon memiliki tinggi tubuh tujuh kali lipat dari manusia biasa ini, tertawa terbahak-bahak atas kemenangannya.
untunglah, tak lama kemudian datang sebuah sinar yang segera menghampiri tubuh Mundinglaya yang sudah terkapar di tanah. dari cahaya itu, pelan-pelan keluar seorang perempuan tua yang wajahnya masih tampak cantik, bernama Nyai Ageng Mas Pohaci. dengan kesaktian yang dimilikinya, Guriang Tujuh yang sedang mabuk kemenangan serta siap menjadikan tubuh ksatria muda Pajajaran itu sebagai mangsa santapannya ini berhasil diribohkan tanpa banyak perlawanan. mundinglaya pun mampu dihidupkan kembali oleh dewi sakti.
Nyai Ageng Mas Pohaci lalu merebut surat bebrbentuk lempengan emas itu, kamudian melimpahkannya kepada Mundinglaya dengan satu isyarat. Disebutkannya, Pajajaran akan tetap hancur akan ulah manusia-manusianya sendiri.
Setelah memperkenalkan diri sebagai nenek Mundinglaya, atas ibunda dari Padmawati yang telah mokhsa (mati tanpa bekas), perempuan tua yang sakti itu pun raib kembali. Sementara Mundinglaya, terus terpana melihat kejadia singkat yang tak masuk akal tersebut sambil tangannya mengapit Salaka Domas yang dicarinya.
Selanjutnya, Mundinglaya kembali ke tanah Sunda lewat suatu cara gaib pula, dengan membawa surat sakti yang diminta Baginda Prabu Siliwangi.
Sementara itu, dikeraton, Baginda Prabu Siliwangi didampingi permaisuri Padmawati, Nyai Dewi Asri serta kerabat istana lainnya, menyambut dengan takjub kedatangan Mundinglaya yang sebelumnya telah dikabarkan mati. Melihat kemenangan pangeran itu, kedengkian Sunten Jaya pun semakin menjadi.
Selang seminggu kemudian, Mundinglaya pun dinobatkan menjadi raja pengganti takhta resmi san Prabu Siliwangi. Sedangkan Nyai dewi Asri, yang begitu cinta serta sayang kepada sang kekasih, dinobatkan secara bersamaan sebagai Permaisuru baru. Bersama penibatan MUndinglaya menjadi raja, dikabarkan bahwa Restiningsih dan putranya, Raden Sunten jaya, dengan diiringi patih Pajajaran yang telah lama bersekongkol, terpaksa melarikan diri. Mereka lari kedalam hutan karet di lereng gunung Gobang yang terletak di sebelah barat keraton Pajajaran.
Mereka berniat betsembunyi dan berniat meminta bantuan kepada pertapa sakti bernama Ki BUngsi di gunung Gobang, yang masih terhitung kerabat Pajajaran. Mereka memohon agar secepatnya Mundinglaya di singkirkan. Tetapi, ternyata Ki Bungsu adalah seorang yang arif bijaksana. Permohonan Raden Sunten jaya dan desakan sang patih tidak di kabulkatn. Bahkan, nereka disankan agar kembali ke keraton secara baik-baik dan meminta maaf atas segala perbuatan yang telah mereka lakukan selama ini.
Ki Bungsu sengaja memberi saran kebaikan kepada mereka, karena pertapa itu tahu, Mundinglaya yang memiliki kejujuran seperti ibunya, Padmawati pasti akan memaafkan semua kesalahan mereka. Tetapi, sang Patih takut kepada sang Prabu Siliwagi sehingga merasa putus asa.
Di tengah-tengah keputusasaan itulah, dengan bijaksana Ki Bungsu sendiri datang menghadap sang Prabu. karena rasa hormat yang begitu dalam kepada sang pertapa sakti yang lama dihormati dan diseganinya ini, maka ibu-beranak penebar bala bersama sang patih dimaafkan.
Namun begitu, sang patih menolsk untuk kembali ke istana. dengan disaksikan Ki Bungsu, dia mengambil jalan pintas yang mengerikan. Sang patih memilih membunuh diri untuk menanggung segala akibat perbuatan tercelanya.
Pengampunan yang diberikan Prabu Siliwangi seakan sia-sia. Restiningsih dan Subten jaya pun memilih untuk tetap tinggal di hutan karet daripada harus menerima belas kasihan sang Prabu dan Mundinglaya.
Konon, dengan langkah yang mereka ambil serat akibat penderitaan mereka yang begitu berat, ibu dan anak tersebut kemudian pergi meninggalkan hutan karet entah kemana. Ki Bungsu sendiri, yang tidak dipamiti, sia-sia saja mencari mereka.
Suasana kerajaan Pajajaran kembali semarak. Baginda meneluskan pemerintahannya didampingi putra mahkota Mundinglaya Di kusuma secara tenteram dan damai.
Hingga datang suatu zaman, sesuai ramalan, keraton besar di wilayah Jawa Barat itu harus hancur oleh ketamakan dan kebengisan para putra mahkota berikutnya yang berebut takhta, termasuk juga ulah kawulanya yang terbawa arus zaman serta telah mengabaikan ajaran-ajaran luhur dan adilihung peninggalan sang Prabu Siliwangi.